Entri Populer
-
Vampir katanya emang asli Cina Tapi di barat juga katanya ada Banjir di Jakarta uda biasa Biasa diperdebatkan di media massa Makan dodo...
-
Tata Cara Akses Internet dan Localhost • Internet Service Provider Internet Service Provider adalah suatu perusahaan yang menyediakan layan...
Kamis, 25 November 2010
Sabtu, 20 November 2010
PENGALAMAN LUCU, UNIK DAN MENARIK: "Pulau Putri – Siapa yang mencuri"
Ini cerita lagi tentang biawak di Pulau Putri. Tapi ini bukan aku sendiri yang menyaksikan, ini cerita dari salah satu pegawai Pulau Putri. Begini ceritanya :
Suatu waktu ada sepasang turis manca negara yang sudah agak lanjut usianya menginap di salah satu cottage di Pulau Putri. Pagi-page hari pertama menginap dia pesansarapan. Pesanan adalah roti panggang dan seperti biasa dilengkapi mentega / butter, selai dan keju. Minumannya kopi. Petugas Room Service mengantarkan ke cottage dan meminta tanda tangan pada bill pesanan. Pesanan tersebut di taruh di meja teras. Pagi-pagi minum kopi dan makan roti panggang dengan pemandangan suasana pantai yang cerah di pulau yang indah, disertai istri yang setia menemani hampir separuh hidupnya, sungguh nikmat hidup ini.
Setelah menikmati suasana pagi, kemudian mereka masuk ke kamar. Entah mengapa roti tadi hanya dimakan sepotong dan istrinyapun cuma minum kopi. Sisanya tidak dibawa masuk. Kira-kira satu jam kemudian si suami keluar dari kamar mau makan sisa rotinya. Namun dilihatnya piring tempat roti sudah kosong. Dia pikir ada orang yang mengambil roti. Dia merasa kecewa dan jengkel. Masa roti saja ada yang mengambil. Dia sudah berprasangka buruk kepada para pegawai cottage.
Besoknya untuk sarapan dia pesan lagi kopi dan roti. Seperti kemarinnya roti hanya dimakan sepotong dan kemudian ditinggal masuk ke kamar. Dia penasaran dengan kejadian kemarin. Sebentar sebentar dia mengintip ke teras. Rupanya dia ingin menangkap basah si pencuri roti. Namun sudah berkali kali mengintip ke teras, roti masih tetap disitu.
Setelah beberapa kali mengintip akhirnya dia terkaget kaget ada biawak yang masuk ke teras. Sengaja dia tidak mengusir biawak tersebut, diamati saja terus biawak itu. Dengan perlahan lahan biawak itu menuju meja dimana roti ditaruh. Kemudian menaiki meja dan dilahapnya roti panggang. Rupanya biawak Pulau Putri sudah kenal bule makanya sarapannya pun cari roti. Dengan terheran-heran si bule menyaksikan adegan itu. Dia sadar dan merasa bersalah telah mempunyai pikiran jelek bahwa yang mengambil roti adalah pegawai cottage.
Besoknya untuk sarapan dia pesan lagi roti untuk 3 porsi, satu porsi akan diberikan pada biawak. Kali ini roti ditaruh mulai didepan tangga cottage, sepotong ditangga, sepotong diteras dan sepotong dipegangnya. Ditunggunya biawak yang doyan roti itu. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dari jauh kelihatan biawak menuju ke cottagenya. Di tunggu dan amati biawak tersebut dengan sabar. Perlahan-lahan sang biawak mendekat menuju tangga. Ditemui roti pertrama kemudian disantapnya. Dilanjutkan naik tangga dan disantapnya roti yang kedua. Mau masuk teras dia ragu-ragu karena ada si Bule. Karena Bule nya diam saja akhirnya setapak demi setapak biawak itu maju menuju roti ketiga. Setelah dekat, dengan lidahnya yang panjang diambilnya roti yang ketiga. Setelah roti ketiga masuk ke perut biawak itu memndangi si Bule. Kemudian Bule memperlihatkan roti yang ada ditanganya, dan acungkan kearah biawak. Biawak itu memandangi Bule mau maju tapi takut.
“Come ......, come......” kata bule. Nggak tahu biawaknya sudah kursus bahasa Inggris apa belum.
Sang biawak masih diam saja sambil matanya kedap kedip.
“Come on...baby.....”.
Dengan ragu mendekat juga biawak itu sambil menjulur-julurkan lidahnya. Akhirnya setelah dekat dengan tangan si Bule dicaploknya roti yang ke empat. Bule tersebut sangat girang bisa memberi makan biawak liar dari tangannya. Istrinya yang dari tadi mengintip dari pintu juga merasa surprise atas tindakan suaminya. Dia kawatir biawak itu akan menggigit tangan suaminya. Setelah tidak ada roti yang diberikannya maka dengan perlahan lahan balik kanan jalan perlahan lahan menuju semak semak.
Begitu senangnya Bule itu, ketika makan siang direstoran diceritakan kejadian tadi pagi kepada pegawai-pegawai cottage. Besoknya diulanginya upacara pemberian makan biawak. Itu dilakukan sampai hari terakhir menginap di Pulau Putri. Sebelum check out dia bilang pada petugas front office bahwa dia nanti liburan tahun depan akan ke Pulau Putri lagi. Dia akan menemui biawak kesayangannya dan akan memberi makan dari tangannya.
Nah binatang yang sebagian besar orang merasa jijik saja bisa membuat turis ingin kembali mengunjungi tanah air. Bagaimana dengan kita yang diberikan budi dan akal? Bisakah turis menjadi betah saat berkunjung di negri kita dan bisa membuat turis untuk berkunjung kembali kesini?. Harusnya bisa.
Suatu waktu ada sepasang turis manca negara yang sudah agak lanjut usianya menginap di salah satu cottage di Pulau Putri. Pagi-page hari pertama menginap dia pesansarapan. Pesanan adalah roti panggang dan seperti biasa dilengkapi mentega / butter, selai dan keju. Minumannya kopi. Petugas Room Service mengantarkan ke cottage dan meminta tanda tangan pada bill pesanan. Pesanan tersebut di taruh di meja teras. Pagi-pagi minum kopi dan makan roti panggang dengan pemandangan suasana pantai yang cerah di pulau yang indah, disertai istri yang setia menemani hampir separuh hidupnya, sungguh nikmat hidup ini.
Setelah menikmati suasana pagi, kemudian mereka masuk ke kamar. Entah mengapa roti tadi hanya dimakan sepotong dan istrinyapun cuma minum kopi. Sisanya tidak dibawa masuk. Kira-kira satu jam kemudian si suami keluar dari kamar mau makan sisa rotinya. Namun dilihatnya piring tempat roti sudah kosong. Dia pikir ada orang yang mengambil roti. Dia merasa kecewa dan jengkel. Masa roti saja ada yang mengambil. Dia sudah berprasangka buruk kepada para pegawai cottage.
Besoknya untuk sarapan dia pesan lagi kopi dan roti. Seperti kemarinnya roti hanya dimakan sepotong dan kemudian ditinggal masuk ke kamar. Dia penasaran dengan kejadian kemarin. Sebentar sebentar dia mengintip ke teras. Rupanya dia ingin menangkap basah si pencuri roti. Namun sudah berkali kali mengintip ke teras, roti masih tetap disitu.
Setelah beberapa kali mengintip akhirnya dia terkaget kaget ada biawak yang masuk ke teras. Sengaja dia tidak mengusir biawak tersebut, diamati saja terus biawak itu. Dengan perlahan lahan biawak itu menuju meja dimana roti ditaruh. Kemudian menaiki meja dan dilahapnya roti panggang. Rupanya biawak Pulau Putri sudah kenal bule makanya sarapannya pun cari roti. Dengan terheran-heran si bule menyaksikan adegan itu. Dia sadar dan merasa bersalah telah mempunyai pikiran jelek bahwa yang mengambil roti adalah pegawai cottage.
Besoknya untuk sarapan dia pesan lagi roti untuk 3 porsi, satu porsi akan diberikan pada biawak. Kali ini roti ditaruh mulai didepan tangga cottage, sepotong ditangga, sepotong diteras dan sepotong dipegangnya. Ditunggunya biawak yang doyan roti itu. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dari jauh kelihatan biawak menuju ke cottagenya. Di tunggu dan amati biawak tersebut dengan sabar. Perlahan-lahan sang biawak mendekat menuju tangga. Ditemui roti pertrama kemudian disantapnya. Dilanjutkan naik tangga dan disantapnya roti yang kedua. Mau masuk teras dia ragu-ragu karena ada si Bule. Karena Bule nya diam saja akhirnya setapak demi setapak biawak itu maju menuju roti ketiga. Setelah dekat, dengan lidahnya yang panjang diambilnya roti yang ketiga. Setelah roti ketiga masuk ke perut biawak itu memndangi si Bule. Kemudian Bule memperlihatkan roti yang ada ditanganya, dan acungkan kearah biawak. Biawak itu memandangi Bule mau maju tapi takut.
“Come ......, come......” kata bule. Nggak tahu biawaknya sudah kursus bahasa Inggris apa belum.
Sang biawak masih diam saja sambil matanya kedap kedip.
“Come on...baby.....”.
Dengan ragu mendekat juga biawak itu sambil menjulur-julurkan lidahnya. Akhirnya setelah dekat dengan tangan si Bule dicaploknya roti yang ke empat. Bule tersebut sangat girang bisa memberi makan biawak liar dari tangannya. Istrinya yang dari tadi mengintip dari pintu juga merasa surprise atas tindakan suaminya. Dia kawatir biawak itu akan menggigit tangan suaminya. Setelah tidak ada roti yang diberikannya maka dengan perlahan lahan balik kanan jalan perlahan lahan menuju semak semak.
Begitu senangnya Bule itu, ketika makan siang direstoran diceritakan kejadian tadi pagi kepada pegawai-pegawai cottage. Besoknya diulanginya upacara pemberian makan biawak. Itu dilakukan sampai hari terakhir menginap di Pulau Putri. Sebelum check out dia bilang pada petugas front office bahwa dia nanti liburan tahun depan akan ke Pulau Putri lagi. Dia akan menemui biawak kesayangannya dan akan memberi makan dari tangannya.
Nah binatang yang sebagian besar orang merasa jijik saja bisa membuat turis ingin kembali mengunjungi tanah air. Bagaimana dengan kita yang diberikan budi dan akal? Bisakah turis menjadi betah saat berkunjung di negri kita dan bisa membuat turis untuk berkunjung kembali kesini?. Harusnya bisa.
PUISI: “Puisi Jatuh Cinta Yang Romantis”
Dalam sepiku ada bisikmu…
Dalam ingatku ada namamu…
Dalam bayangku ada dirimu…
Rasa inisemakin bergetar dan kuat saat ada dirimu…
Senyum ini tampak indah saat kau ada…
Tingkah ini menjadi manja saat kau ada…
Apakah rasa ini cinta namanya ataukah sayang…
Pikirku selalu ingat kamu dan senyummu…
Dalam setiap langkahku ada bayangmu…
Sesaatku bertanya dalam hatiku siapa kamu…
Apakah arti dirimu untukku…
Selalu salam diriku ada waktu untukmu…
Saat ku sendiri kurasakan hadirmu…
Saat ku rindu kurasakan peluk eratmu…
Saat kau bahagaia kurasakan dalam hati ini…
Andai ku bisa menggapaimu…
Akan ku pasrahkan apapun untukmu…
Andai ku tahu dan Kau bisa rasakan rasa ini…
Salam sayangku selalu untukmu dari jiwaku…
Dalam ingatku ada namamu…
Dalam bayangku ada dirimu…
Rasa inisemakin bergetar dan kuat saat ada dirimu…
Senyum ini tampak indah saat kau ada…
Tingkah ini menjadi manja saat kau ada…
Apakah rasa ini cinta namanya ataukah sayang…
Pikirku selalu ingat kamu dan senyummu…
Dalam setiap langkahku ada bayangmu…
Sesaatku bertanya dalam hatiku siapa kamu…
Apakah arti dirimu untukku…
Selalu salam diriku ada waktu untukmu…
Saat ku sendiri kurasakan hadirmu…
Saat ku rindu kurasakan peluk eratmu…
Saat kau bahagaia kurasakan dalam hati ini…
Andai ku bisa menggapaimu…
Akan ku pasrahkan apapun untukmu…
Andai ku tahu dan Kau bisa rasakan rasa ini…
Salam sayangku selalu untukmu dari jiwaku…
PUISI: "Api dan Hujan"
Api......
Kau menyala dalam kegelapan ku
Api......
Kau hangatkan jiwa raga ku nan sunyi
Api......
Kau bakar hati ku
Api......
Kau hanguskan jantung ku
Api......
Kau relakan kesemuanya demi kekuatan
Cinta kuHujan......
Begitu teganya kau
Kau sirami api cinta ku
Hujan......
Kau padamkan api kebersamaan ku
Hujan......
kau padamkan api cinta ku
Hujan......
Kau dinginkan suasana hidup ku
Yang panas membara
Hujan......
Kau hanyutkan kesemua rindu ku
Hujan......
Kau raibkan kasih sayang ku
Hujan......
Kau sapu bersih asmara ku
Hujan......
Kau pudarkan segala warna cinta ku
Hujan......
Kini hanyalah tinggal kekecewaan
Hujan......
Kini hanyalah tinggal kelukaan
Hujan......
Kini yang tersisah hanyalah sebuah kenangan.........
Kau menyala dalam kegelapan ku
Api......
Kau hangatkan jiwa raga ku nan sunyi
Api......
Kau bakar hati ku
Api......
Kau hanguskan jantung ku
Api......
Kau relakan kesemuanya demi kekuatan
Cinta kuHujan......
Begitu teganya kau
Kau sirami api cinta ku
Hujan......
Kau padamkan api kebersamaan ku
Hujan......
kau padamkan api cinta ku
Hujan......
Kau dinginkan suasana hidup ku
Yang panas membara
Hujan......
Kau hanyutkan kesemua rindu ku
Hujan......
Kau raibkan kasih sayang ku
Hujan......
Kau sapu bersih asmara ku
Hujan......
Kau pudarkan segala warna cinta ku
Hujan......
Kini hanyalah tinggal kekecewaan
Hujan......
Kini hanyalah tinggal kelukaan
Hujan......
Kini yang tersisah hanyalah sebuah kenangan.........
PUISI: "DO`A MALAM"
Secuil harapan
Demi keindahan hidup
Seberkas impian agar berubah jadi
Kenyataan
Ku lantunkan Do`a dan harapan
Menebus ketenangan
Dalam kesuksesan
Mengakhiri Do`a dengan Untaian kata
Amin
Agar mimpi-mimpi semulus harapan
Agar mimpi-mimpi jadi kenyataan
Ya Allah, Ya Tuhan ku
Dengarkanlah Do`a ku
Dalam keheningan malam
Demi keindahan hidup
Seberkas impian agar berubah jadi
Kenyataan
Ku lantunkan Do`a dan harapan
Menebus ketenangan
Dalam kesuksesan
Mengakhiri Do`a dengan Untaian kata
Amin
Agar mimpi-mimpi semulus harapan
Agar mimpi-mimpi jadi kenyataan
Ya Allah, Ya Tuhan ku
Dengarkanlah Do`a ku
Dalam keheningan malam
CERPEN: GERHANA
Suatu kebetulan selalu mengejutkan, dan munculnya tak disangka-sangka. Berbeda dari biasa, dan pasti jarang terjadi. Tapi seperti sudah takdir, kebetulan dalam hidupku selalu datang.Namaku Rembulan, dan biasa dipanggil Bulan. Pasti kan? Dan kebetulan, ada seorang cowok baru di sekolahku, namanya Matahari. Kebetulan, dia seumuran denganku. Kebetulan, dia sekelas denganku, dan yang selalu kebetulan, bangku kami bersebelahan.Kalau begini, aku percaya saja kata-kata temanku yang kecanduan komik, kalau di dunia ini nggak ada yang kebetulan, tapi sudah ditakdirkan. Kalau begitu.... apakah Matahari itu ditakdirkan untukku?Aku ini gadis jelek, pemurung kuper dan selalu tidak dihiraukan orang. Kata orang-orang aku pendiam, sombong, dingin dan kelam. Seperti malam yang dingin pada saat bulan ada. Berbeda dengan dia.Matahari itu betul-betul hebat. Cowok ganteng, serba bisa, jago dalam pelajaran dan olahraga. Bahkan dia sangat ramah, murah senyum, supel dan disukai banyak orang. Pertama kali dia pindah, dia sudah hapal semua teman sekelasku, dan kurang dari seminggu, namanya sudah dikenal di seluruh sekolah. Benar-benar hebat. Dan aku juga… bukankah bulan yang memantulkan sinar matahari tampak indah?Tapi kami berbeda. Sangat berbeda. Kami tidak akan bisa bertemu, seperti bulan dan matahari juga, yang takkan bisa bersama. Sebenarnya kenyataan ini cukup membuatku syok. Karena bagaimanapun juga, ada rasa yang terpendam dalam tubuh, jiwa dan rohku ini. Meskipun akal sehatku menentang, tapi begitu melihat dia, bahkan badanku langsung bereaksi tanpa bisa kucegah. Aku langsung mendekat. Untung beberapa detik sesudah itu aku langsung sembuh.“Maaf ya!” Katanya waktu itu, pagi saat dia datang ke sekolahku. Saat aku menuju kelas dengan membawa buku paket yang akan kami gunakan. Tak kusangka, cowok asing yang keren itu tersenyum ramah dan bahkan membantuku yang terjatuh karena buku yang terlalu berat dan dia menyangka itu ulahnya yang terburu-buru mencari kelas barunya. Aku hanya diam dan mengumpulkan buku paket cepat-cepat. Dia juga membantuku.“Namaku Matahari. Sering disingkat Hari. Ngomong-ngomong, kelas 2 PIS 2 di mana ya? Aku kayaknya kesasar sampai disini.”“Aku juga kelas 2 PIS 2. kelasnya ada di ujung sana. Pergilah, pasti kamu ditunggu.” Jawabku cepat. Aku nggak mau sama-sama orang cerewet sok ramah itu.“Kita sekelas? Jangan bilang kayak gitu. Kubantu ya!” tanpa menunggu jawabanku, dia membawa semua buku paket dan pergi begitu saja. Sesaat, aku merasa jengkel. Tapi senyumnya saat itu langsung membuatku terpesona. Mungkin sejak saat itulah... aku menyukainya.Mungkin sejak saat itu juga, aku selalu tanpa sadar memperhatikannya. Dan aku sangat senang, begitu dia menyapaku setiap ada kesempatan. Tapi kebodohanku, aku selalu menjawab dingin.“Kebetulan, kita ketemu di sini ya?” Katanya menyapaku waktu itu. Beberapa minggu sesudah pertemuan pertama kami. Aku yang sedang memilih buku langsung tertarik mendengar suaranya.“Oh, kamu.... mau nyari buku juga?” Tanyaku.“Iya. Aku lagi milih komik. Ternyata aku ketemu kamu ke sini lagi milih teenlit. Konsen banget ya? Apa karena pilihanmu banyak? Nggak kusangka.”“Apanya yang nggak kamu sangka? Tapi aneh juga ya, anak sepintar kamu hobi baca komik. Kupikir anak sepintar dan sebesar kamu nggak bakal suka baca komik.” Kataku masih sibuk memilih.“Iya sih, kita kan sudah SMA tapi itu menurutku nggak masalah kok. Kamu suka buku seperti apa?”“Hm... buku apa saja.”“Tuh kan? Sudah kuduga. Bulan orangnya simpel, tapi ternyata pemilih juga ya? Gimana kalau ini saja?”“Kalau ngambil kayak gitu, kesannya kamu ngambil sembarangan.” Komenku. Tapi kuterima juga.“Kamu sibuk nggak? Ada acara habis ini?” Tanya Matahari.“Nggak. Terus, kenapa?” “Jalan yuk! Kita makan siang, terus main.”“Nggak usah. Aku mending pulang.” Jawabku ketus. Aaah!!! Bodoh! Padahal aku mau banget!!! Sudah kebiasaan sih...“Sekali aja. Kamu nggak ada acara apa-apa kan? Kutraktir deh!” katanya lagi. Kesempatan!!!Aku senang. Kami akhirnya bisa jalan berdua. Meski dunia kami berbeda, aku bisa bersamanya bersenang-senang seperti sekarang. Meski hanya sebentar, aku bahagia banget.“Makasih ya, sudah nemanin aku sepanjang hari ini.” Katanya.“Nggak masalah!”“Bye.” “Jadi... sekarang kamu sendirian?” Tanya Matahari padaku saat istirahat siang. seneng banget waktu tahu dia yang datang. kadang kami jalan bareng kalau ke perpus, atau mengantar tugas ke ruang guru bareng. tapi nggak pernah kalau makan siang. dia dikerumuni banyak orang sih. dasar orang tenar.“Ya... jarang-jarang aku punya teman. Ngapain kamu ke sini?” Tanyaku dingin. dan itu melengkapi kebodohanku.“Memangnya kenapa? Kan kamu temanku yang pertama.” Jawabnya.“Sudahlah! Ngapain kamu ngobrol sama dia? Dia itu nggak bakal ramah sama siapa aja. Ngebosenin!” Tiba-tiba saja banyak cewek yang datang sama-sama dengan dia. Kenapa sih, mereka ngomongin itu terus? Memangnya kenapa kalau aku nggak menarik? Dasar bodoh!“Betul. Nggak ada apa-apanya kamu temenan sama cewek nggak menarik kayak dia. Orang yang nggak punya emosi, payah lagi! Jangan-jangan... ada tujuan lain ya?” Kata para cowok kompak. Aku nggak tahan lagi!!!Aku langsung pergi. Percuma saja. Dasar orang-orang jahat! Pasti Matahari juga berpikir sama dengan mereka. Aku ini....“Tunggu dulu! Bulan, tunggu!!!” Terdengar suara Matahari. Rupanya dia mengejarku. Kenapa sih? Dia berhasil meraih tanganku.“Apa-apaan sih?” ku tangkis tangannya. “Jangan marah. Maafkan mereka, mereka keterlaluan memang. Kau mau kan?”“Aku nggak marah. Mereka juga nggak keterlaluan. Semua ucapan mereka betul kok! Aku ini nggak ramah, ngebosenin, sombong payah, nggak menarik, semuanya!! Kamu juga pasti berpikiran sama kayak mereka kan? Kamu pasti enak, dikelilingi sama mereka. Kamu pasti juga menganggap aku ini cewek nggak menarik kan?” kataku berusaha bicara biasa-biasa saja, tapi rasanya sakit. sakit banget.“Aku nggak pernah bilang gitu, dan kami itu nggak seperti yang kamu pikir!!”“Bohong!”“Nggak bohong!!! Aku nggak pernah menganggap kamu cewek nggak menarik, karena aku suka kamu dari dulu!!”Sesaat, aku tertegun mendengarnya. Matahari punya perasaan yang sama denganku?? Aku senang sekali!!! Tapi.... tapi....“Kita ini berbeda!!! Jauh berbeda. Kita ini sama seperti nama kita. Aku ini seperti rembulan, yang nggak ada apa-apa tanpa matahari. Tidak seperti kamu, yang selalu cerah ceria seperti matahari. Apa jadinya kalau kita jadian? Nggak bakal cocok kan? Apa kamu mau mempermainkanku?”“Siapa yang mau mempermainkanmu? Aku selalu memperhatikanmu sejak pertama kali bertemu. Aku... aku... sangat menyukaimu. Waktu kita bertemu di toko buku, aku sangat senang bisa mengajakmu jalan. Karena itu... karena itu...”Tiba-tiba dia jadi gugup. Lucu sekali. Tapi nggak mungkin kan, aku bersamanya? Apa kata teman-temannya nanti? Bisa-bisa Matahari terkena imbasnya juga.“Sudah kubilang kan? Dunia kita jauh berbeda. Matahari nggak bakal muncul barengan dengan Rembulan. Aku nggak bisa bersamaku. Maaf...”“Dari tadi alasanmu Cuma matahari dan bulan saja! Siapa bilang Matahari dan Bulan nggak bisa menyatu? Apa kamu nggak pernah melihat gerhana? Gerhana muncul dari perpaduan Matahari dan Bulan. Semua orang menantikannya, entah itu gerhana bulan ataupun gerhana matahari.”Dia bahkan memakai istilah itu untuk menyakinkanku!!“Lagipula, kita ini manusia. Nggak ada hubungannya nasib kita dengan alam, atau pertanda, atau apapun. Bahkan nama sekalipun. ya ampun... kenapa kamu sampai bikin aku ngomong sekonyol ini? yang namanya perasaan itu kan nggak pernah ada hubungannya dengan hal-hal konyol kayak gitu. Kamu... kamu mau jadi pacarku?”Rasanya seperti mendengar petir di siang bolong.“Kamu.... nggak bakal takut bersamaku? Yakin?”“Tentu saja!!! Kau pernah melihatku nggak yakin?” Katanya tegas. begitulah Hari. ramah, konyol, lucu, dan serius. “Aku...”Tentu saja yang membaca kisah konyol ini tahu apa yang terjadi. Mungkin ini kisah yang singkat, tapi nyata bagiku. Perlahan, aku menerima Matahari, dan seperti namaku (meski Matahari nggak suka ngomongin itu), akhirnya aku bersinar indah berkatnya.Apakah ini benar kebetulan atau takdir? Aahh... biarlah. Yang penting, malam ini pun aku masih bisa melihat Rembulan yang indah malam ini dan seterusnya.
CERPEN: RAMADHAN PENUH CINTA
KRIIIIING….KRRIIIIIING…KRIIIIIIIING…
Bel telah berbunyi menandakan telah usainya pelajaran. Terlalu cepat dari biasanya. Ini baru jam setengah dua siang, dan biasanya bel pulang sekolah berbunyi pukul setengah empat sore. Pasti karena tiga hari lagi bulan Ramadhan akan tiba, dan seperti biasa sekolah kami selalu mengadakan apel menjelang Ramadhan yang kemudian di akhiri dengan bermaaf-maafan.
Ah, ini kesempatan bagiku untuk melihat dia dari dekat sambil menjabat tangannya. Saatnya bagiku untuk melihat senyumnya dari jarak paling dekat yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Selama ini, jarak terdekatku saat melihatnya adalah di saat kami dan beberapa siswa lainnya menghadap ke ruangan BP. Saat itu, kami duduk saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja. Dan kali ini akan menjadi rekor baru bagiku. Aku akan melihat dia, lalu kami saling berhadapan tanpa ada penghalang apapun.
Tidak lama setelah bel berbunyi, terdengar suara pengumuman yang membuyarkan lamunanku. Para siswa diharapkan untuk segera berkumpul di lapangan untuk mengadakan apel menjelang Ramadhan. Bergegas aku dan teman-teman memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas kami masing-masing. Setelah berdoa, kami berhamburan tak karuan menuju lapangan sekolah. Di lapangan, para guru telah rapi berjajar menunggu para siswanya yang mulai merapikan barisan sesuai kelas mereka masing-masing.
Apel di mulai dengan sambutan dari kepala sekolah, kemudian siraman rohani menyambut bulan Ramadhan dari guru agama kami dan di akhiri dengan doa bersama. Dan inilah saat yang ku tunggu, saat-saat yang sedari tadi kunantikan yang membuatku sama sekali tidak memperhatikan sambutan kepala sekolah dan hanya sesekali mendengarkan ceramah dari guru agamaku.
Acara puncak pun di mulai, sambil diiringi oleh tabuhan marawis dari anak-anak rohis para siswa mulai beriringan antri untuk bersalaman dengan para guru, tak terkecuali aku. Siswa yang telah bersalaman dengan para guru berbaris memanjang untuk bersalaman dengan teman yang ada di belakangnya. Aku bersalaman tetapi mataku berkeliaran mencari dia yang memang sedari tadi ada dalam benakku.
Kulihat dia berada tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya di saat aku hampir sampai di hadapannya. Semakin dekat, semakin cepat pula jantungku berdetak. Hanya dengan bersalaman dengan tiga orang temanku lagi, aku akan sampai dihadapannya.
Orang pertama, detak jantungku semakin cepat.
Orang kedua, keringat dingin mulai mengalir melewati pinggir keningku.
Orang ketiga, kurasakan gerakan tanganku yang gemetar.
Dan saat aku berada tepat di hadapannya, ada yang berdesir dalam dadaku. Seolah jantung ini lepas dan berhenti berdetak. Keringat yang sedari tadi mengalir, kini semakin deras meluncur membasahi wajah gugupku ini. Kini tanganku semakin bergetar hebat. Oh tidak, aku benar-benar gugup menghadapinya.
Dalam ketidak berdayaanku ini, dia menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Kusambut tangan halusnya dengan tanganku yang dengan susah payah kuangkat sambil menahan rasa gemetar yang sangat hebat. Seiring dengan kedua tangan kami yang saling berjabatan tak ada yang mampu aku lakukan kecuali diam. Terlebih lagi saat dia menyunggingkan senyumnya kepadaku. Senyumannya seolah mampu menghentikan waktu. Lesung pipi indahnya pun seolah membawaku terbang menembus langit ketujuh.
Imajinasiku benar-benar melayang saat itu sampai ada sebuah dorongan dibelakangku yang akhirnya menyadarkan segalanya. Tanpa berlama-lama, aku pun beranjak dari hadapannya sambil membalas senyumannya. Aku kembali melanjutkan acara bersalaman hingga tuntas dan beranjak pulang meninggalkan sekolah yang akan menyisakan banyak kenangan sampai aku lulus nanti.
Bel telah berbunyi menandakan telah usainya pelajaran. Terlalu cepat dari biasanya. Ini baru jam setengah dua siang, dan biasanya bel pulang sekolah berbunyi pukul setengah empat sore. Pasti karena tiga hari lagi bulan Ramadhan akan tiba, dan seperti biasa sekolah kami selalu mengadakan apel menjelang Ramadhan yang kemudian di akhiri dengan bermaaf-maafan.
Ah, ini kesempatan bagiku untuk melihat dia dari dekat sambil menjabat tangannya. Saatnya bagiku untuk melihat senyumnya dari jarak paling dekat yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Selama ini, jarak terdekatku saat melihatnya adalah di saat kami dan beberapa siswa lainnya menghadap ke ruangan BP. Saat itu, kami duduk saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja. Dan kali ini akan menjadi rekor baru bagiku. Aku akan melihat dia, lalu kami saling berhadapan tanpa ada penghalang apapun.
Tidak lama setelah bel berbunyi, terdengar suara pengumuman yang membuyarkan lamunanku. Para siswa diharapkan untuk segera berkumpul di lapangan untuk mengadakan apel menjelang Ramadhan. Bergegas aku dan teman-teman memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas kami masing-masing. Setelah berdoa, kami berhamburan tak karuan menuju lapangan sekolah. Di lapangan, para guru telah rapi berjajar menunggu para siswanya yang mulai merapikan barisan sesuai kelas mereka masing-masing.
Apel di mulai dengan sambutan dari kepala sekolah, kemudian siraman rohani menyambut bulan Ramadhan dari guru agama kami dan di akhiri dengan doa bersama. Dan inilah saat yang ku tunggu, saat-saat yang sedari tadi kunantikan yang membuatku sama sekali tidak memperhatikan sambutan kepala sekolah dan hanya sesekali mendengarkan ceramah dari guru agamaku.
Acara puncak pun di mulai, sambil diiringi oleh tabuhan marawis dari anak-anak rohis para siswa mulai beriringan antri untuk bersalaman dengan para guru, tak terkecuali aku. Siswa yang telah bersalaman dengan para guru berbaris memanjang untuk bersalaman dengan teman yang ada di belakangnya. Aku bersalaman tetapi mataku berkeliaran mencari dia yang memang sedari tadi ada dalam benakku.
Kulihat dia berada tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya di saat aku hampir sampai di hadapannya. Semakin dekat, semakin cepat pula jantungku berdetak. Hanya dengan bersalaman dengan tiga orang temanku lagi, aku akan sampai dihadapannya.
Orang pertama, detak jantungku semakin cepat.
Orang kedua, keringat dingin mulai mengalir melewati pinggir keningku.
Orang ketiga, kurasakan gerakan tanganku yang gemetar.
Dan saat aku berada tepat di hadapannya, ada yang berdesir dalam dadaku. Seolah jantung ini lepas dan berhenti berdetak. Keringat yang sedari tadi mengalir, kini semakin deras meluncur membasahi wajah gugupku ini. Kini tanganku semakin bergetar hebat. Oh tidak, aku benar-benar gugup menghadapinya.
Dalam ketidak berdayaanku ini, dia menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Kusambut tangan halusnya dengan tanganku yang dengan susah payah kuangkat sambil menahan rasa gemetar yang sangat hebat. Seiring dengan kedua tangan kami yang saling berjabatan tak ada yang mampu aku lakukan kecuali diam. Terlebih lagi saat dia menyunggingkan senyumnya kepadaku. Senyumannya seolah mampu menghentikan waktu. Lesung pipi indahnya pun seolah membawaku terbang menembus langit ketujuh.
Imajinasiku benar-benar melayang saat itu sampai ada sebuah dorongan dibelakangku yang akhirnya menyadarkan segalanya. Tanpa berlama-lama, aku pun beranjak dari hadapannya sambil membalas senyumannya. Aku kembali melanjutkan acara bersalaman hingga tuntas dan beranjak pulang meninggalkan sekolah yang akan menyisakan banyak kenangan sampai aku lulus nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)








